Buku berjudul “Lima Puluh Tahun menyatukan Hati ; Peringatan Pernikahan Emas Harsutjiati – Slamet Abdul Latief” ini sengaja dibuat sebagai ungkapan rasa hormat, bhakti, cinta dan sayang, serta terima kasih kami para putra-putri, menantu, anak, dan cucu kepada Ayahanda, Ibunda, Nenenda, Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief.
Mereka berdua bukanlah “tokoh besar”, apakah itu tokoh politik, pemerintahan, kesenian, maupun agama, yang kerap disorot banyak media massa lokal maupun nasional. Kami sadar betul tentang hal itu. Mereka berdua adalah orang tua yang melahirkan kami ber-enam, yang pada saat ini masing-masing telah hidup mandiri, membesarkan dan mendidik anak dalam keluarga, dan hidup terpencar di berbagai kota dengan bermacam profesi pekerjaan. Kalau boleh agak sentimental, mereka berdua Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief adalah “tokoh di hati kami”, “orang penting di hati kami”, “salah satu figur yang menjadi rujukan utama dalam hidup kami”. Lantaran mereka berdualah kami ( anak-anaknya ) ada di dunia ini, dan karena mereka berdua pula kami dapat “menikmati hidup” seperti sekarang ini.
Di mata dan hati kami, keenam putra-putrinya, Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief adalah sosok yang senantiasa dekat, amat dekat, baik secara fisik maupun secara batin ; sejak kami kecil hiduo dalam satu keluarga di kampung Karangkadjen, Yogya selatan, di Lampung dan hingga kini setelah kami semua hidup mandiri. Tanpa disadari, kami ingin selalu bertemu, bercengkerama, jalan-jalan bersama, makan bersama. Meskipun kini masing-masing kami bertempoat tinggal di Metro, Bandar Lampung, Yogyakarta, mapun di Bekasi, tapi kami senantiasa menantikan kehadiran beliau berdua untuk berkunjung ke rumah kami. Kehadiran mereka berdua selalu menenteramkan hati kami sekeluarga, walaupun perasaan itu tidak selalu dapat kami ungkapkan secara langsung di hadapan beliau berdua.
Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief adalah “manusia biasa”. Mereka berdua adalah figur “orang tua” jamaknya di negeri ini, yang mengharapkan keutuhan, keharmonisan, dan kebahagiaan keluarga yang senantiasa bersemayam di dalam hati dan rumah tangga setiap anak-anaknya. Untuk memperoleh ketenteraman hati, kebahagiaan lahir dan batin, memang orang kerap tertipu seolah-olah cukup dengan mengusung pola dan gaya hidup yang konsumtif, sehingga bengabaikan tali persaudaraan ( silahturrahim ). Bapak dan Ibu senantiasa menekankan kepada kami anak-anaknya untuk salang sayang-menyayangi, hormat-menghormati, saling mengunjungi, berkomunikasi, dan bantu-membantu.
Dalam hidup sejak kami kecil, Bapak dan Ibu selalu menekankan kepada kami untuk berhemat, mandiri, dan banyak berinisiatif. Pembagian kerja selalu dilakukan di antara kami berenam anak-anaknya dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di rumah. Hemat merupakan kunci rahasia keberlanjutan keluarga, mengingat Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief bukanlah “orang kaya”, yang bisa memiliki harta benda yang melimpah. Akan tetapi, mereka berdua memiliki semangat hidup, cvita-cita, optimisme, dan komitmen untuk “membesarkan anak-anaknya”, walau perjuangan itu kerapkali harus disertai dengan keringat, darah dan air mata. Mereka berdua meniti karir dari nol sebagai guru, yang konon disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” di negeri ini.
Kini, kami menyadari benar betapa berat menjadi “orang tua”. “Berat” atas tanggung-jawab membesarkan anak-anak ; menyekolahkan mereka ( di sekolah yang baik ), membimbing dan mendidik anak-anak agar memilik budi-pekerti dan berperilaku hidup sehari-hari yang mulia ( “yang sedap dipandang mata” ), membimbing dan mendidik untuk hidup bermasyarakat secara baik dan benar, menyiapkan mental menjelang memasuki usia muda / remaja, dan akhirnya melepas mereka ke dunia kehidupan orang dewasa. Tugas yang maha berat, namun mulia.
Sebagaimana lazimnya, semula kami merencanakan penerbitan “buku peringatan” ini dalam bentuk yang sebaik mungkin. Untuk itu, proposal disusun, kepanitiaan dibentuk diantara kami anak-anak dan cucu-cucu, riset dirancang, ada wawancara dengan berbagai kalangan, observasi ke lokasi-lokasi atau tempat-tempat bersejarah bagi keluarga, terutama dalam kehidupan Bapak dan Ibu, dan seterusnya dan seterusnya. Namun, apa daya tenaga, pikiran, waktu dan biaya amat membatasi hasrat itu. Maka, dengan semangat “tak ada rotan, akarpun berguna”, “tak ada gading yang tak retak”, dan “holobis kuntul baris” buku ini terus kami kerjakan. Mohon Bapak dan Ibu memaklumi dan memahami sepenuhnya persoalan ini.
Agar mudah dibaca, buku ini kami susun dengan sistematika sebagai berikut. Bagian Pertama, menceritakan perjalanan Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief di mata anak-anaknya. Sebagai wujud apresiasi, penghormatan, dan juga sebagai upaya mencari hikmah, “pelajaran penting” ( lesson learned ), dan teladan dari perjalanan hidup Bapak dan Ibu ; kami putera dan puteri Beliau mencoba mengambil jarak, dan menuliskannya sejauh mungkin secara obyektif dan empatik. Untuk tidak mengurangi penghormatan dan kekhidmatan momentum perayaan ini, maka penulisan bagian pertama ini dilakukan dengan semangat ”mikul dhuwur mendem jero” ( Jw), artinya kira-kira berusaha mengambil hal-hal yang baik untuk dapat diteladani dalam hidup di kemudian hari, dan tidak perlu menonjolkan hal-hal yang dipandang tidak baik, dan tidak patut diteladani. Sesungguhnyalah isi keseluruhan buku ini dibingkai dalam semangat apresiatif-empatis. Jadi buku ini memang bukan sejenis atobiografi, tetapi lebih merupakan “sepotong kecil biografi yang ditulis oleh anak-anak, menantu dan cucu-cucu”
Bagian pertama ini terdiri dari empat bab ; bab satu menceritakan perjalanan hidup Bapak Slamet Abdul Latief dan Ibu Harsutjiati sejak kota kelahiran mereka ( di Klaten dan di Sragen ) kira-kira pada masa remaja sampai pertemuan mereka di Solo, saat menempuh Sekolah Menengah Atas ( SMA ). Bab dua mencoba memotret perjalan hidup awal “pasangan muda” ini di kota Yogya, setelah pernikahan dilangsungkan di Sragen ( 13 Juni 1956 ). Hidup bersusah-payah pada masa ( sulit ) revolusi ’45 di “kota perjuangan” tentu membawa kesan tersendiri bagi Bapak dan Ibu berdua, demikian pula bagi kami anak-anaknya.
Bab tiga, adalah cerita tentang masa transisi atau peralihan dari kehidupan di tanah Jawa ke pulau ( harapan ) Sumatera. Bapak meniti karir sebagai Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) yang dimulai dengan menjadi guru SMA, dosen UNILA, dan menjadi Staf di lingkungan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( Kanwil Depdikbud ) Propinsi Lampung ; sedangkan Ibu menjadi pendamping yang setia, mendidik anak dan dan mengelola rumah tangga. Dengan status sebagai PNS di lingkungan Depdikbud, Bapak dan Ibu “berjumpalitan” agar dapat menyekolahkan ke-enam anak-anaknya ( Alhamdullah keenamnya lulus sarjana semua, tiga dari UNILA dan tiga dari UGM ), hingga menghantarkan ke jenjang perkawinan. Setelah memasuki masa pensiun, Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief ternyata tidak lantas “menganggur”, tetapi tetap sibuk dengan berbagai aktivitas di bidang pendidikan, sosial dan keagamaan. Bab empat adalah cerita tentang fase titik-balik dalam perjalanan hidup Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief. Inilah saatnya “menikmati hidup”, dengan menunaikan rukun Islam kelima ( “naik haji” ), bersilahturrahmi ke sanak famili sambil rekreasi ( jalan-jalan ), dan memperingati serta merayakan Pernikahan Emas ini.
Pada Bagian Kedua, riwayat hidup Bapak dan Ibu Slamet Abdul Latief alan dipaparkan secara singkat, terutama didasarkan atas uraian “resmi” berikut dokumen-dokumen pendukungnya ( sertifikat, surat keterangan, piagam, dan lain-lain ). Pada Bagian Ketiga, berisi renungan atau refleksi perjalanan hidup dari Bapak dan Ibu. Bagian Keempat adalah paparan photo-pohot kenangan, mulai dari orang tua dan saudara-saudara Bapak dan Ibu ; anak-anak, menantu dan cucu ; rekan kerja dan sahabat ; aktivitas sosial kemasyarakatan ; dan photo khusus berdua. Terakhir adalah lampiran.
Pengantar ini ingin kami tutup dengan pertama, permohonan maaf kepada Bapak dan Ibu, keluarga, saudara dan seluruh handai tolan, jika ( pasti ) terdapat kekeliruan atau kesalahan dalam penyebutan atau pemaknaan atas peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Disamping itu, tidak lengkap dan tidak runtutnya “jalan cerita” yang dibangun dalam Bagian Pertama. Untuk itu, kami penulis mengundang koreksi dan kritik dari para pembaca dengan senang hati. Kedua, terima kasih tak terhingga disampaikan kepada banyak pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu di sini, yang dengan caranya masing-masing telah ikut memberikan sumbangan sangat berharga dalam penyelesaian penulisan karya ini. Meskipun, harus segera dicatat bahwa tanggung-jawab penulisan buku ini sepenuhnya ada di atas pundak para penulis.

Oktober 16, 2007 pukul 4:01 am |
Hai, ini adalah komentar,
Untuk menghapus komentar, silakan login dan lihat komentar pada postingan, disitu Anda dapat mengedit atau menghapusnya.