BAGIAN PERTAMA, Bab I

BAGIAN PERTAMA

PERJALANAN HIDUP BAPAK DAN IBU ( dimata anak-anaknya . . . . . . . )

Mangka kanthining tumuwuh, Salami mung awas eling, Eling lukitaning alam, Dadi wiryaning dumadi, Supadi nir ing sangsaya, Yeku pangreksaning urip ( 1 )

Marma den taberi kulup, Angulah lantiping ati, Rina wengi den anedya, Pandak-panduking pambudi, mBengkas kaardaning driya, Supadya dadya utami ( 2 )

( KGPAA Mangkunegara IV, Ageming Aji Priyayi Jawi ; Intisari Kearifan Serat Wedhatama, 2004 ; 166-169 )

BAB SATU

Klaten, Sragen, dan Solo ; kenangan indah masa remaja . . . . . .

Tak usah kami diberi kain, Dipakai kain akan luntur,

Tak usah kami diberi nasi, Dimakan nasi akan habis,

Berilah kami hati yang suci, muka jernih, Budi baik dibawa mati . . . .

( pepatah orang tua-tua, Hamka, Falsafah Hidup, 1995 ; 249 )

. . . . . . . . Jawa tahun 1930-an

Pada masa kolonial (abad XIX dan XX), wilayah Surakarta (Solo) dan Yogyakarta merupakan tempat kedudukan empat kerajaan yang “berdiri sendiri” dibawah kekuasaan negara kolonial Hindia Belanda. Keraton Kesunanan dan Mangkunegaran di kota Surakarta, sedangkan keraton Kesultanan dan Pakualaman di Yogyakarta. Meskipun keempatnya secara resmi mengaku pewaris kerajaan Mataram, namun mereka sesungguhnya adalah koloni Belanda di pulau Jawa yang diperintah secara tidak langsung, yaitu dengan meletakkannya dibawah dua karesidenan yakni Surakarta dan Yogyakarta. Keempat wilayah kerajaan itu disebut vorstenlanden ( wilayah raja-raja ), berbeda dari wilayah Jawa lain yang dikuasai secara langsung oleh pemerintah Hindia Belanda (Shiraishi, 1997). Berdasarkan pembagian administrasi kewilayahan pada akhir abad XIX, afdeling (kabupaten) Klaten dan Boyolali, serta sebagian besar Sragen merupakan milik Kasunanan. Sementara itu, Karanganyar dan Karangpandan milik Mangkunegaran. Kabupaten Wonogiri berada di wilayah Mangkunegaran, kecuali Desa Sukoharjo dan Tawangsari yang menjadi milik Kasunanan.

Pada awal abad ke-20, kota-kota kabupaten seperti Klaten dan Sragen adalah daerah kolonial Hindia Belanda diposisikan sebagai pusat-pusat produksi hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Baik Klaten maupun Sragen, keduanya masuk dalam wilayah administratif Karesidenan Surakarta. Sragen dekat dengan Karesidenan Madiun di sebelah timurnya, sedangkan Klaten dekat dengan Karesidenan Yogyakarta di sebelah selatannya. Selama puluhan tahun gula merupakan komoditi ekspor dari pulau Jawa. Artinya perekonomian kolonial Belanda berpusat di pulau Jawa, karena ekspor gula dari pulau Jawa sebelum 1930-an merupakan seperempat dari penghasilan pemerintah Hindia Belanda. Karena dominannya peran ekonomi-gula di Jawa, produksi gula dari pulau Jawa diibaratkan sebagai “gabus tempat pulau Jawa mengapung” (de kurk waarop Java dreef). Dengan perkataan lain, perekonomian Hindia Belanda “mengapung di atas ekspor gula (dari) Jawa” (Ong Hok Ham, 2002). Di Klaten, antara lain terdapat pabrik gula Gondang, demikian pula di Sragen didirikan PG Modjo. Oleh karena itu, baik Klaten maupun Sragen merupakan kabupaten yang cukup ramai pada masa itu. Aktivitas kolonial Belanda yang nyaris sepenuhnya ditopang oleh praktik “kapitalisme perkebunan” (extract capitalism), mengakibatkan kehidupan masyarakat memiliki dinamika perekonomian yang cukup tinggi. Di satu sisi ada lapisan masyarakat yang cenderung lebih banyak menikmati hasil dari bergeraknya mesin kapitalisme perkebunan dan birokrasi pemerintah kolonial, yaitu kalangan pejabat dan pegawai pemerintah kabupaten (disebut juga para ambtenar pegawai negeri kolonial), pedagang, dan kelompok profesional (dokter, guru, ahli hukum dll). Sebaliknya, ada lapisan masyarakat yang kurang dapat menikmati rezeki dari pergerakan bisnis perkebunan dan pemerintahan, yaitu para petani dan buruh kecil.

Pada tahun 1930-an terjadi depresi ekonomi atau “malaise” (oleh lidah orang Indonesia kerap disebut zaman “meleset”), yang melanda baik di negara-negara industri maupun non-industri. Tak ayal lagi perekonomian negara kolonial Hindia Belanda pun ikut limbung. Nilai gula dari Jawa jatuh. Dengan hilangnya pasaran gula Jawa tidak lagi berfungsi sebagai pengahsil komoditas ekspor, sehingga fungsi Jawa sebagai pusat ekonomi kolonial berhenti pula. Depresi ekonomi tahun 1930 ini membawa dampak serius baik pada kehidupan ekonomi maupun politik rakyat Hindia Belanda. Kemiskinan dan penderitaan rakyat meluas sampai jauh dibawah ambang batas kewajaran ( tidak manusiawi ), sementara di bidang politik para pemimpin pergerakan dijauhkan dari pendukungnya. Mereka dikenakan larangan bicara, dibuang keluar Jawa atau ke pengasingan sehingga sulit untuk bisa berkonsolidasi dengan massanya. Selama sepuluh tahun pabrik dan perusahaan perkebunan mengurangi aktivitasnya, banyak terjadi pemutusan hubungan ekrja, sehingga meledaklah pengangguran. Keadaan seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi “kuli” Deli pun terpaksa pulang ke Jawa dengan membawa kemis kinan dan kesengsaraan (Suhartono, 1994).

……… Klaten

Dalam setting sebagaimana digambarkan di atas kira-kira, Bapak Slamet Abdul Latief dan Ibu Harsutjiati dilahirkan ( dalam tulisan ini seanjutnya disebut “bapak” dan “ibu” saja ). Bapak dilahirkan pada 19 Desember tahun 1931 di kota Klaten, sedangkan ibu dilahirkan pada 17 januari 1936 di kota Sragen. Bapak adalah anak seorang pedagang, sedangkan orang tua ibu selain berdagang, kemudian juga masuk sebagai pegawai pemerintah ( Depag ), dan juga sebagai muballigh (juru dakwah).

Slamet Abdul LatiefMenurut penuturan bapak, beliau sesungguhnya termasuk anak atau bayi yang lahir prematur. Oleh karena itu, pada masa kecilnya beliau sering diserang berbagai penyakit. Karena sering sakit, maka pada masa remajanya dilakukan upacara ruwatan agar supaya musibah tidak selalu datang kepada bapak. Setelah upacara ruwatan / slametan itulah nama bapak berubah, lebih banyak dikenal dengan panggilan “slamet”, maksudnya agar dalam mengarungi hidup selalu berada dalam keadaan slamet. Pada masa remaja, bapak merasa bangga karena orang tuanya termasuk pedagang atau pengusaha yang sukses di kota Klaten. Kerapkali bapak bercerita bahwa ayahnya adalah termasuk satu dari tiga orang terkaya di Klaten kala itu. Pada waktu kecil bapak sering naik kereta kuda, yang hanya dimiliki oleh keluarga tertentu saja. Selain usaha barang-barang kelontong, orang tua bapak juga seorang pedagang perhiasan emas, penjahitan, dan juga penginapan (hotel). Pada tahun-tahun sebelum 1970-an, pada saat kami berlebaran di “mbah Klaten” ( sebutan kami untuk orang tua bapak ), sisa-sisa masa kejayaan zaman dahulu itu masih tampak, antara lain dari deretan kamar-kamar bekas penginapan, toko kelontong, beberapa rumah di beberapa lokasi ( kini semua telah dijual ), rumah kediaman yang sangat besar dengan halaman depan dan belakang yang luas dan dipenuhi dengan berbagai tumbuhan tahunan, seperti : gayam, mlinjo, mangga, jambu umbel, rambutan, sirsak ( nangka belanda ).

……….. Sragen

Di Sragen terdapat sebuah pabrik gula (PG Modjo) yang tebunya diperoleh dari perkebunan tebu di sekitar Sragen, antara lain Desa Karang Malang, Desa Masaran. Selain itu di Sragen, pada waktu itu juga terdapat pabrik pengolahan karet yang getahnya diperoleh dari perkebuan karet di Desa Kedawung dan Desa Sambirejo. Penduduk kota Sragen terdiri dari : pegawai kantor kabupaten, buruh pabrik, dan pedagang. Sedangkan di pedesaan hidup para petani, baik petani sawah irigasi maupun tadah hujan (terutama di Sragen bagian utara).

Penduduk Sragen mayoritas beragama Islam. Namun, adat Jawa masih kental antara lain terlihat pada upacara perkawinan, kelahiran, kematian, sunatan, gotong royong ( sambatan ) pada waktu mendirikan rumah. Dalam kegiatan pertanian diadakan upacara sedekah atau selamatan, seperti pada saat akan menanam dan panen. Dalam bidang pendidikan, di Sragen terdapat pendidikan umum dari jenjang TK, SD, dan SLTP umum dan kejuruan, seperti Sekolah Rakyat Negeri ( volkschool ). Ibu sekolah di SD “Mardi Kenya” sampai kelas 3, kemudian melanjutkan ke SRPN (Sekolah Rakyat Perempuan) sampai kelas 6. SD Mardi Kenya dan SRPN adalah sekolah yang muridnya perempuan semua, dengan bahasa pengantar bahasa Jawa. Di sekolah juga diberi pelajaran keterampilan, seperti : membatik kain motif Jawa, memasak dan menjahit. Pendidikan agama Islam tingkat dasar diselenggarakan di Madrasah Mambaul ‘Ulum. Dalam bidang kesenian, seni gamelan (karawitan) dan seni tari Jawa berkembang dengan baik, antara lain melalui kursus-kursus kelompok tari. Ibu sempat megikuti latihan menari Jawa di salah satu lembaga kursus di Sragen. Selain menari, sejak kecil ibu gemar membaca dan mengarang.

Ibu Harsutjiati muda bersama kedua Orang tuaPendidikan yang diberikan oleh orang tua ibu ( kami biasa memanggilnya “mbah Sragen” ) lebih ditekankan pada pendidikan agama, khususnya dalam aspek ibadah. Namun, mbah Kakung juga mendorong anak-anaknya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Kepada anak perempuan ditanamkan nilai-nilai agar menajdi wanita yang terpuji, penuh dengan tata krama dan adat sopan santun, baik menurut ajaran Islam maupun adat Jawa. Misalnya cara bersikap, bertingkah laku, bergaul, berpakaian, serta mengerti tugas dan tanggungjawab sebagai perempuan, isteri, dan ibu rumah tangga. Dalam pandangan orang Jawa dahulu, seorang anak laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung keluarga orang tuanya, misalnya membantu dan meringankan beban orang tuanya dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Tujuannya agar sang anak menjadi orang yang bertanggungjawab. Oleh karena itu, seorang anak laki-laki didorong untuk menempuh pendidikan lebih tinggi agar dapat menjadi “orang”, dan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang besar.

…… tahun1942-1945

Pada 10-11 januari 1942 secara berturut-turut tentara Jepang berhasil menduduki Tarakan, kemudian Minahasa, Slawesi Timur, Balikpapan, dan Ambon. Peristiwa pendudukan oleh tentara Jepang ini menyusul penyerangan Pearl Harbor dari udara oleh angkatan udara Jepang pada 7 Desember 1941. Selanjutnya pada bulan Februari Jepang berhasil menduduki Pontianak, Makasar, Banjarmasin, Palembang, dan pulau Bali. Pada 1 Maret 1942 tentara Jepang berhasil mendarat di pulau Jawa, di dekat Banten. Pada gilirannya, Batavia ( Jakarta ) jatuh pada 5 Maret 1942, diikuti oleh bandung pada 8 Maret 1942. Dengan jatuhnya Bandung, maka habislah riwayat pemerintahan kolonial Hindia Belanda di Indonesia, dan mulailah zaman pendudukan Jepang. Bala tentara Jepang menjalankan kekuasaan di Indonesia dengan gaya pemerintahan militer ( gunseibu )

Pada 15 Agustus 1945 Jepang kalah perang dan menyerah kepada sekutu. Selama masa pendudukan Jepang kehidupan masyarakat sangat sulit, sehingga perekonomian pada saat itu dapat disebut sebagai “ekonomi telanjang”. Artinya tidak setiap orang mampu membeli kain untuk bahan pakaian. Saking melaratnya, rakyat menggunakan bagor, goni, dan kulit binatang untuk pakaian atau sekedar penutup aurat. Beras, gula, garam dan tekstil sangat sulit diperoleh karena sebagian besar disetor ke kumiai ; sementara produksi padi merosot drastis. Gejala kurang pangan dan kelaparan terjadi dimana-mana. Masyarakat menderita kurang gizi yang mengakibatkan mewabahnya berbagai penyakit kulit. Untuk mengatasi kekurangan pangan, pemerintah mensahkan bekicot ( siput darat ) sebagai lauk makan karena mengandung banyak protein. Daya beli rakyat tidak ada sama sekali, sedangkan mereka harus melayani kinrohoshi yang menghabiskan tenaga. Semua bentuk logam, baik mulia dan bukan mulia harus dikumpulkan. Rakyat nyaris tinggal bisa bernafas.

Pada akhir September 1945 terjadi gerakan pengoperan bangunan kolonial yang penting dan juga menjalar di pabrik-pabrik gula di Klaten dan Sragen. Pada saat bapak berusia 11-14 tahun ( tahun 1942-1945 ) sekitar kelas 1-2 SMP, pada akhir masa pendudukan Jepang di Indonesia, bapak terlibat secara intensif dalam peperangan antara pasukan / gerilyawan “republik” ( termasuk lazkar Hisbullah ) dengan tentara Jepang. Oleh karena masih anak-anak ( bocah ), maka bapak banyak terlibat pada barisan belakang pasukan dan sebagai kurir. Tugas bapak terutama membantu / bertanggungjawb terhadap ibunya ( “mbah putri” ) pada saat pergi mengungsi.

… … . . Solo, 1951-1953

Oleh karena dalam suasana perang revolusi kemerdekaan ( 1945 ) dan agresi militer Belanda ke II ( 19 Desember 1948 ), maka pendidikan bapak sempat terputus. Antara tahun 1951-1953, pada usia 20-22 tahun, bapak menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Bagian B, di Surakarta ( kalau tidak keliru sekarang adalah SMA Negeri III Solo, salah satu SMA favorit di Solo ). Pertemuan bapak dan ibu terjadi di Solo, pada saat bapak menempuh pendidikan SMA, sedangkan ibu pada tingkat SMP. Masa-masa “pacaran” di Solo antara bapak dan ibu pernah diceritakan bapak, antara lain mereka pergi ke Taman Sri Wedari, Solo ( yang ada danau dan perahunya ). Menurut Takashi Shiraishi (1997: 40-41), Sri Wedari adalah kebon binatang kepunyaan Hingkang Sinoehoen di Solo, dimana di dalamnya antara lain terdapat bangku-bangku untuk duduk bercengkerama, penuh dengan lampu-lampu listrik, bioscoop, pagelaran wayang orang, dan restoran. Akhirnya, pada 13 Juni 1956, ketika bapak berusia sekitar 25 tahun dan ibu 20 tahun melangsungkan pernikahan di Sragen. Menurut penuturan Mbah Puteri Pudjopangripto alm., ibu menikah dengan bapak atas pilihannya sendiri, bukan dijodohkan oleh orang tua.

Perkawinan Slamet Abdul Latief dan Harsutjiati, 1956

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.