Kata Mereka
Review dari nikoe koenang koenang di http://suryanikoe.multiply.com![]()
Buku yang dipersembahkan sebagai tanda bhakti, sayang dan terima kasih ini dipersembahkan kepada kedua orang tua (Harsutjiati – S.A. Latief) dari anak, menantu dan cucu dalam peringatan perkawinan emas mereka. Buku yang berkisah tentang latar belakang masing-masing pasangan, bagaimana mereka bertemu dan akhirnya, kemudian bagaimana mereka berumah tangga dan tetap bekerja, berorganisasi dan mengantar anak-anaknya ke masa depan yang apad akhirnya berkeluarga dan mempunyai kehidupannya masing-masing, plus foto-foto keluarga besar mereka. Kini pasangan tersebut tinggal dilampung dan kembali berduaan saja.
Pasangan seperti ini tentulah impian tiap suami istri, apakah dia orang biasa, tokoh, karyawan, atau kah dia seorang artis. Cinta mula-mula, pasangan remaja, cinta pertama dan pasangan lainnya tentu biasanya –mungkin juga gombal-akan bilang “sehidup semati”, “sampai kakek nenek”, “sampai mau memisahkan”, dan sumpah setia lainnya. Tetapi dalam realitasnya tidak banyak yang sampai pada pernikahan emas, justru banyak juga yang tidak sampai seumur jagung sudah cerai. Tidak hanya perceraian dikalangan artis, tetangga, teman gereja, teman kantor, teman organisasi dan komunitas lainnnya, hanya saja karena mereka bukan artis jadi tidak diberitakan.
Beberapa kutipan menarik perhatian saya, dan saya kutip disini ya:
Mangka kanthining tumuwuh, Salami mung awas eling, Eling lukitaning alam, Dadi wiryaning dumadi, Supadi nir ing sangsaya, Yeku pangreksaning urip [1]
Marma den tabei kulup, Angulah lantiping ati, Rina wengi den anedya, Padak panduging pambudi, Mbengkas kaardaning driya, Supaya dadya utami [2]
[KKPAA Mangkunegara IV, Ageming Aji Priyayi Jawi : Intisari Kearifan Serat Wedhatama2004 : 166-169]
Uger lugu, den ta mrih pralebdeng kalbu, Yen Kabul kabuki, Ing drajat kajating urip, Kaya kang wus winahyeng sekar srinata [3]
Basa ngelmu, mupakate lan panemu, Pasahe lan tapa, Yen satria tanah jawi, Kuna-kuna kang ginilut tri-prakara [4]
Lila lamun, kelangan nora gegetan, Trima yen ketaman, Sak serik sameng dumadi, Tri legawa nalangsa srah ing bathara [5]
[KKPAA…. : 82-87]
Kira-kira sampai ngga ya, ke perkawinan emas itu? [aku membayangkan….]